Jar Garia, Mafiaterkini- Aktivitas belajar mengajar di SD Negeri Jursiang, Kecamatan Aru Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Aru, dilaporkan lumpuh total. Pihak sekolah diduga meliburkan kegiatan persekolahan secara sepihak dan tidak sesuai dengan kalender pendidikan dan tanpa alasan yang jelas. Insiden memprihatinkan ini bukanlah yang pertama, melainkan potret berulang yang kian mengancam masa depan generasi muda di beranda terdepan NKRI.
Pendidikan adalah fondasi paling mendasar bagi kemajuan suatu bangsa, terlebih bagi anak-anak di daerah terpencil yang mengandalkan sekolah sebagai satu-satunya jalan untuk memutus rantai keterbatasan. Di tengah isolasi geografis, kehadiran guru bukan sekadar sebagai pengajar materi di papan tulis, melainkan sebagai lentera peradaban, pengukir mimpi, dan penentu arah masa depan. Ketika ruang kelas digembok dan lonceng sekolah dibungkam, hak-hak konstitusional anak di daerah terpencil secara nyata telah diabaikan.
Dampak dari karut-marutnya manajemen sekolah ini dinilai sebagai bentuk proses pembodohan terstruktur terhadap anak-anak di perbatasan Kepulauan Aru. Akibat proses belajar-mengajar di tingkat sekolah dasar (SD) berjalan tidak efektif, banyak siswa yang akhirnya gagal memenuhi standar nilai yang diharapkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Mimpi anak-anak perbatasan untuk bersaing dengan daerah lain terancam kandas sebelum berkembang.
Sektor pendidikan di Desa Jursiang kini tengah menjadi sorotan tajam menyusul minimnya keaktifan sejumlah tenaga pengajar dalam menjalankan tugasnya. Berdasarkan temuan di lapangan, terdapat indikasi kuat bahwa beberapa guru lebih mengutamakan urusan bisnis pribadi dibandingkan kewajiban mulia mereka mencerdaskan anak didik.
Kepala Desa Jursiang Malik Mangar, mengungkapkan keprihatinannya bahwa dari total waktu kerja yang seharusnya dicurahkan sepenuhnya untuk anak-anak, para guru hanya mendedikasikan sebagian kecil waktunya di sekolah.
Kondisi ini menciptakan pembiaran yang nyata terhadap masa depan generasi muda. Sekolah sering kali kosong melompong akibat guru meninggalkan tempat tugas untuk kepentingan komersial pribadi. Berdasarkan laporan warga, oknum guru berinisial Ibu S.T. tidak berada di tempat tugas selama kurang lebih 4 bulan. Sementara itu, guru lain berinisial I.L. dilaporkan lebih fokus pada bisnis pribadinya.
“Kalau dia I.L laksanakan tugas 70% di usaha, hanya 30% di pendidikan,” ujar Kepala Desa Jursiang, Malik Mangar, dengan nada kesal.
Ketiadaan pengawasan optimal ini, kian diperparah saat Kepala Sekolah tidak berada di tempat, membuat aktivitas sekolah berjalan tanpa arah. Meski demikian, secercah harapan kini muncul kembali. Malik Mangar mengenang masa kepemimpinan mantan kepala sekolah, Pak Palpialy, yang dulu sangat disiplin dan memperhatikan sekolah secara totalitas. Setelah sempat dipindahkan yang memicu kemunduran drastis hingga sekolah diliburkan sepihak, kini Pak Palpialy telah kembali bertugas di Desa Jursiang.
“Saya yakin sekolah pasti berjalan dengan baik sama seperti dulu lagi,” tegas Kades dengan optimis.
Menyikapi krisis ini, pemerintah desa mendesak instansi terkait dan Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Aru untuk segera mengambil langkah tegas. Kepala Desa meminta agar para guru yang tidak aktif, meninggalkan tugas demi bisnis, dan menelantarkan pendidikan sebagai tugas pokok, segera dievaluasi dan dipindahkan ke wilayah lain. Tindakan tegas ini dinilai krusial agar hak anak-anak di perbatasan dalam mendapatkan akses pendidikan yang layak dan bermutu tidak diabaikan demi kepentingan segelintir oknum. (Mafiaterkini-BT)










